Selamat datang di STIE Pembangunan Tanjungpinang. Berdiri sejak tahun 1997, terus bertumbuh dan berkembang hingga menjadi perguruan tinggi favorit dan berkualitas.

Kontak Cepat

Selamat datang di STIE Pembangunan Tanjungpinang. Berdiri sejak tahun 1997, terus bertumbuh dan berkembang hingga menjadi perguruan tinggi favorit dan berkualitas.

Kontak Cepat

Tingkatkan Tata Kelola Ekonomi Desa, STIE Pembangunan Tanjungpinang Gandeng Pemkab Bintan Gelar Workshop BUMDes

bnr-arrow-1-1.png

Tanjungpinang – Sebagai wujud kontribusi nyata dunia pendidikan tinggi terhadap pembangunan ekonomi desa, STIE Pembangunan Tanjungpinang menggandeng Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bintan dalam menggelar Workshop Pengelolaan dan Manajerial Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kegiatan berlangsung selama dua hari, 29–30 Juni 2026, bertempat di Bintan Pearl Beach Resort.

Workshop ini dirancang untuk membekali para pengelola BUMDes dengan kemampuan manajerial yang lebih matang, sehingga unit usaha desa dapat dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel demi mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat.

Empat narasumber yang kompeten di bidangnya turut mengisi kegiatan ini, yaitu Assoc. Prof. Dr. Satriadi, S.AP., M.Sc., Assoc. Prof. M. Isa Alamsyahbana, S.E., M.Ak., Bambang Sambodo, S.E., M.Ak., dan Asrul, S.Sos. Acara secara resmi dibuka melalui sambutan dari Assoc. Prof. Dr. Rachmad Chartady, S.E., M.Ak.

Dalam paparannya, Rachmad Chartady menyoroti pentingnya posisi BUMDes sebagai pilar utama kemandirian ekonomi di tingkat desa. Ia mengingatkan bahwa modal usaha yang besar tidak akan banyak berarti tanpa diimbangi tata kelola yang baik dan kapasitas manajerial yang memadai.

“BUMDes harus dikelola secara profesional agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa. Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi langkah penting untuk menciptakan usaha desa yang berkelanjutan,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Satriadi memaparkan bahwa persoalan BUMDes saat ini sudah melampaui isu administratif semata. Pengelola BUMDes dituntut mampu membaca peluang pasar, merumuskan strategi bisnis yang tepat, membangun jejaring kemitraan, sekaligus mengadopsi teknologi digital dalam operasionalnya.

“Penguatan tata kelola yang baik (good governance), transparansi, akuntabilitas, serta pengelolaan risiko menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat dan keberlanjutan usaha,” ujar Satriadi.

Ia menambahkan, BUMDes ke depan tidak bisa lagi sekadar berperan sebagai pengelola dana desa, melainkan harus bertransformasi menjadi entitas bisnis yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Sepanjang dua hari pelaksanaan, peserta dibekali beragam materi, mulai dari tata kelola organisasi, perencanaan dan pengelolaan keuangan, penyusunan laporan keuangan, strategi pengembangan unit usaha, kepemimpinan organisasi, hingga optimalisasi potensi ekonomi lokal. Metode penyampaian materi dikemas secara partisipatif melalui diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi penyusunan rencana pengembangan usaha desa.

Melalui workshop ini, diharapkan lahir generasi pengelola BUMDes yang lebih adaptif, berkompeten secara manajerial, dan mampu mengembangkan potensi lokal menjadi usaha yang produktif serta berdaya saing. Hal ini sejalan dengan upaya strategis untuk mendorong peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes), membuka lapangan kerja baru, dan menggerakkan roda perekonomian di tingkat desa — sebagaimana menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam memajukan BUMDes yang profesional dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi STIE Pembangunan Tanjungpinang sebagai institusi pendidikan tinggi yang konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tidak hanya unggul dalam pendidikan dan riset, tetapi juga aktif berkontribusi melalui pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemerintah desa ini diharapkan dapat mempercepat lahirnya BUMDes-BUMDes yang mandiri dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa. (mft)

Leave a Comment